Ummu Salamah, Potret Mukminah Sejati

Ummu Salamah, Potret Mukminah Sejati

Oleh : Kh. Muzzayyin Marzuki

Hidup di dunia tidaklah kekal. Ia hanya sebatas jembatan menuju kehidupan akhirat yang akan kekal dan abadi. Maka siapa pun yang cerdas pastilah ia akan memanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengumpulkan bekal sebanyak mungkin  demi kehidupan akhirat kelak.

Untuk kepentingan itu pula Alloh telah menjadikan Nabi kita Muhammad n sebagai tauladan utama. Demikian juga para sahabat baik laki-laki maupun wanita yang selalu menyertai beliau  dalam perjuangan dakwah dan jihad demi tegaknya agama Alloh merupakan panutan bagi siapapun  yang hidup setelah mereka dan  menginginkan kehidupan yang berbahagia di dunia ini apatah lagi di akhirat nanti.

Mengenang  Sosok Sohabiyah Ummu Salamah Al Mahzumiyah

Salah satu figur sohabiyah yang mengikuti  suka duka perjuangan Nabi n semenjak di Makah, meninggalkan kota Makah hingga kembali ke Makkah (sementara) adalah Ummu Salamah, ia bernama Hindun binti Abu Umayyah bin Mughirah Al-Makhzumiyah.

Ummu Salamah merupakan sepupu dari Khalid bin Walid yang setelah masuk Islam digelari dengan “Pedang Alloh” dan juga sepupu dari Abu Jahal bin Hisyam, salah satu tokoh Bani Mahzum yang memusuhi Islam hingga terbunuh dalam peristiwa perang Badar.

Ummu Salamah termasuk golongan awal yang menyambut seruan Islam (As Sabiqunal Awwalun), dan ia termasuk wanita yang pertama ikut  berhijrah ke Madinah bersama suaminya dan seorang anaknya. Dalam perjalanan hijrah tersebut ketiganya dipisahkan secara paksa oleh kaumnya sehingga hanya suaminya (Abu Salamah) yang berhasil berangkat hijrah, sementara Ummu Salamah beserta anaknya baru dapat menyusul kemudian setelah terpisahkan hampir setahun lamanya.

Sebelum menjadi istri Nabi, Ummu Salamah telah menikah dengan Abu Salamah (Abdulloh) bin Abdul Asad Al-Makhzumi. Dalam pernikahan ini beliau dikaruniai empat anak yaitu: Salamah, Zainab, Umar, dan Durrah.

Keluarga Ummu Salamah hidup dengan bahagia dan dalam suasana keimanan dan  perjuangan di jalan Alloh, baik sejak mereka hidup dalam suasana dakwah di Makah bersama Rosululloh beserta para sahabat yang lain maupun setelah berhijroh ke Madinah dan mendapat sambutan yang sangat hangat dari para keluarga muslim Madinah yang nanti dikenal sebagai Anshor (Penolong-penolong agama Alloh).

Ummu Salamah yang selalu mendampingi suaminya, hidup dengan penuh ketentraman,  ketaqwaan serta dapat menggali setiap bentuk kebaikan dari baginda Rasulullah n semenjak tinggal  di Makah apalagi setelah berhijah ke Madinah.

Ummu Salamah berusaha keras mendidik empat anaknya  dengan menanamkan kecintaan kepada Alloh, Rasulullah n dan perjuangan menegakkan agama Alloh.

Ummu Salamah sangat mendukung suaminya untuk berjuang di medan jihad. Beliau sangat  setia mendampingi  suaminya, apalagi ketika suaminya mengalami luka parah dalam berjuang di jalan Alloh pada  perang Uhud.

Di saat  suaminya terbaring sakit menanti detik-detik kematian di jalan Alloh, terjadilah dialog yang sangat mengharukan antara Ummu Salamah dengan suaminya.

Ummu Salamah berkata, “Aku mendengar bahwa jika seorang istri ditinggal mati oleh suaminya, sementara suaminya itu menjadi penghuni surga, lalu istrinya tidak menikah lagi, maka Alloh akan mengumpulkan mereka kembali di dalam surga. Karena itu aku bersumpah bahwa engkau tidak akan menikah lagi (seandainya aku yang mati terlebih dahulu) dan aku tidak akan menikah lagi setelah engkau mati.”

Abu Salamah bertanya, “Adakah engkau mau taat kepadaku?”

Ummu Salamah menjawab, “Ya.”

Abu Salamah melanjutkan dengan pesan dan doa, “Jika aku mati terlebih dahulu maka menikahlah lagi. Ya Alloh, jika aku mati maka berilah Ummu Salamah seorang suami yang lebih baik dariku yang tidak akan membuatnya sedih dan tidak akan menyakitinya.”

Saat Abu Salamah wafat maka  Ummu Salamah mengucapkan doa sebagaimana yang pernah diajarkan Rosululloh n kepada suaminya bilamana mendapatkan musibah yaitu: “Sesungguhnya kita milik Alloh dan kepada Alloh pula kita akan kembali. Ya Alloh selamatkan aku dalam musibah yang menimpaku dan gantikan untukku yang lebih baik darinya.”

Maka setelah masa idahnya berakhir, Ummu Salamah dipinang oleh Abu Bakar Ash Shidiq demikian juga oleh Umar bin Khattab, namun pinangan kedua sahabat mulia tersebut ditolaknya, lantas Rosululoh n pun meminangnya.

Pada mulanya Ummu Salamah ragu-ragu untuk menerima pinangan Rosululloh n seraya berkata : ”Wahai Rosululloh aku mempunyai tiga hal, sebagai wanita aku sangat pencemburu, aku takut hal ini akan membuatmu marah sehingga Alloh pun murka kepadaku dan aku adalah wanita yang sudah berumur serta mempunyai beberapa anak.”

Maka Rosululloh pun menjawab: ”Tentang kecemburuanmu itu Alloh akan menghilangkannya darimu, dan tentang usia, akupun mempunyai masalah yang  serupa, adapun tentang keluarga yang kau sebutkan itu, maka keluargamu adalah juga keluargaku.”

Akhirnya Ummu Salamah menerima pinangan Nabi n. Pada bulan syawal tahu ke 4 H dalam usia 29 th,  Ummu Salamah menikah dengan Rosululloh yang ketika itu beliau berumur 57 th, kemudian tinggal di rumah Zainab binti Khuzaimah salah satu istri Nabi n yang telah wafat.

Ummu Salamah adalah seorang sahabat (shohabiyah), sebagai istri nabi dan sekaligus ulama perempuan ahli hadis disamping Aisyah binti Abu Bakar. Tak kurang dari 378 hadis Nabi berasal dari riwayat Ummu Salamah kemudian ditransmisikan oleh para Ulama Hadis baik dari kalangan sahabat maupun tabiin.

Ummu Salamah juga dikenal sebagai wanita yang santun, cerdas dan berani dalam masalah kebenaran. Kecerdasannya itu membuatnya bersikap kritis dalam mensikapi setiap permasalahan yang terjadi yang kadang menjadi penyebab langsung turunnya beberapa ayat dari al-Qur’an.

Diriwayatkan dari Mujahid ia berkata: Ummu Salamah bertanya kepada Nabi, “Ya Rosululloh kaum lelaki berperang sedangkan kami tidak, dan kami mendapat setengah bagian laki-laki dalam soal warisan.” Maka turun surat an-Nisa ayat 32 dan al-Ahzab ayat 35.

Betapa Alloh telah memuliakan Ummu Salamah, kemuliaan yang tiada tara. Ummu Salamah menjalani kehidupan yang sangat bahagia dan barakah bersama Rosululloh n. Ummu Salamah menjadi seorang istri yang sangat baik bagi Rosululloh. Beliau banyak membantu perjuangan Rosululloh n karena beliau memiliki ide-ide yang cemerlang.

Misalnya, dalam peristiwa perjanjian Hudaibiyah, seusai penandatanganan perjanjian damai dengan kaum musyrik, Rosululloh n memerintahkan para sahabatnya dengan berkata:

“Bersiap-siaplah, sembelihlah hewan-hewan kurban kalian dan cukurlah rambut kalian.”

Namun, saat itu tidak ada seorang pun sahabat yang berdiri dan melaksanakan perintah baginda walaupun perintah itu diulang sampai tiga kali oleh Rosululloh n. Melihat tidak adanya sambutan  dari para sahabat, Rosululloh n lantas masuk ke kemah dan menemui Ummu Salamah, menceritakan kejadian tersebut.

Di sinilah Ummu Salamah menyampaikan usulannya yang cemerlang kepada Rosululloh n dengan berkata:“ Wahai Nabi Alloh, apakah engkau ingin sahabat-sahabatmu mengerjakan perintahmu? Keluarlah dan jangan berbicara dengan siapa pun sebelum engkau menyembelih hewan kurbanmu  dan memanggil tukang cukur untuk mencukur rambutmu.”

Rosululloh n mengikuti  saran yang disampaikan oleh Ummu Salamah. Baginda keluar tanpa berbicara dengan siapa pun lalu menyembelih hewan kurbannya serta mencukur rambutnya. Ketika para sahabat melihat tindakan baginda, para sahabat lantas bangkit dan menyembelih hewan kurban masing-masing  serta mencukur rambut mereka.

Imam Adz-Dzahabi menyebut Ummu Salamah dengan mengatakan: “Dia dianggap salah seorang ulama generasi sahabat.”

Wajarlah bila Ummu Salamah mencapai derajat setinggi itu, sebab setiap saat beliau dapat mendengar langsung bacaan al-Quran dari Rosululloh n dan juga mendengar kata-kata Nabi n dari lisan baginda. Ummu Salamah juga menjadi rujukan para sahabat dalam beberapa persoalan hukum dan fatwa, terutama persoalan yang berkaitan dengan wanita.

Ummu Salamah wafat di usia 90 tahun dan sempat hidup pada masa pemerintahan Khulafah ar-Rasyidin hingga pemerintahan Yazid bin Mu’awiyyah.

Imam Adz-Dzahabi berkata: “Dia adalah Ummul Mukminin yang paling akhir meninggal dunia.”

Begitulah perjalanan hidup Ummu Salamah yang sangat setia mendampingi suaminya yang pertama, Abu Salamah,  sampai dengan wafatnya beberapa saat setelah perang Uhud, karena luka yang dideritanya akibat  perang Uhud.

Kemudian setelah menikah dengan Rosululloh n, beliau  juga diajak mendampingi Rosululloh secara langsung dalam peristiwa-peristiwa penting, diantaranya dalam perjalanan Umroh Hudaibiyah  yang menempuh jalan sekitar 500 km dari Madinah sampai ke Hudaibiyah (dekat Makah).

Beliau terbukti  mempunyai andil besar dalam membawa sahabat agar tetap taat kepada Rosululloh baik dalam keadaan ringan maupun berat. Hal ini terbukti dalam peristiwa Hudaibiyah  ketika para sahabat  tidak mau  mengikuti perintah Nabi n untuk menyembelih kurban dan memotong rambut, maka Ummu Salamah  mengusulkan agar Rosululloh n melaksanakan sendiri  terlebih  dahulu  tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada sahabat.

Maka ketika para sahabat menyaksikan apa yang dikerjakan Rosululloh yaitu menyembelih kurban dan memotong rambut, maka berbondong-bondonglah para sahabat  mengikutinya tanpa sedikit pun membantah.

Begitulah semestinya tugas setiap istri yang sholihah, ia mempunyai  pemahaman Islam yang mendalam, mempunyai visi perjuangan  “Iqomatuddien” yang  jelas lantas mendampingi  suaminya dalam liku-liku perjuangan memenangkan  Islam sesuai dengan tuntutan kondisi aktual pada masanya.

Itulah Ummu Salamah mendampingi suami pertamanya dalam suka dan duka  hijroh di jalan Alloh, hingga masa-masa pra dan  pasca perang Uhud.

Lantas ketika menjadi salah satu Ummahatul Mukminin, dalam mendampingi Rosulululloh n terutama dalam perjalanan yang panjang kala itu dari  Madinah  menuju Makkah. Ia ikut andil dalam memberikan ide yang cemerlang  ketika para sahabat terhimpit kondisi dan merasa sangat berat untuk menerima  hasil rundingan Perdamaian Hudaibiyah sehingga karena tekanan batin meraka tidak berdaya untuk beranjak mentaati perintah Rosululloh n.

Disaat itulah Ummu Salamah  mengusulkan agar Rosululloh  memberikan contoh dan melaksanakan lebih  dahulu, dan hasilnya sahabat pun berbondong-bondong mengikutinya. Wallohu a’lam bishowab..

 

Referensi :

  1. Ibnu Kaatsir,Tafsir al Qur’an Al ‘Adzim,2/286
  2. Ibnu Jarir At Thobari, Jami’ Al Bayan fi Ta’wil Al Qur’an 8/261
  3. Al Baghowi, Ma’alim At Tanzil,2/204
  4. Ibnu Hajar, Tahdzib At Tahdzib 12/483
  5. Syekh Shofiyur Rohman Al Mubarok furi, Rokhiqul Mahtum
  6. Islamcom
  7. com
  8. wikipedi.org
  9. com