Setiap sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki keutamaan dan keistimewaan masing-masing. Secara umum, Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan pujian yang agung kepada para sahabat, khususnya kaum Muhajirin dan Ansar, dalam firman-Nya:
وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)
Keridaan Allah kepada para sahabat merupakan karunia yang sangat besar. Bahkan, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu dalam tafsirnya, keridaan Allah memiliki kedudukan yang lebih agung daripada kenikmatan surga itu sendiri.
Di antara sahabat yang memiliki banyak keutamaan adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau dikenal sebagai salah satu sahabat utama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, khalifah ketiga kaum muslimin, serta sosok yang memiliki kedekatan luar biasa dengan Al-Qur’an.
Nama dan Nasab
Nama lengkap beliau adalah Utsman bin Affan bin Abul Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab. Sebelum memeluk Islam, kunyah beliau adalah Abu Amr. Setelah menikah dengan Ruqayyah, putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dikaruniai seorang putra, kunyah beliau dikenal sebagai Abu Abdillah.
Utsman radhiyallahu ‘anhu lahir di Makkah sekitar lima tahun setelah peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah. Usia beliau lebih muda sekitar lima tahun daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau dikenal sebagai sosok yang berwajah rupawan, bertubuh sedang, tidak terlalu tinggi maupun pendek, berdada bidang, serta memiliki fisik yang kuat.
Keislaman Utsman bin Affan
Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu memeluk Islam pada usia sekitar 34 tahun. Beliau menerima ajakan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu tanpa keraguan dan segera menyatakan keislamannya dengan penuh keteguhan.
Abu Ishaq rahimahullahu menyebutkan bahwa orang-orang yang pertama kali memeluk Islam setelah Abu Bakr adalah Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhum. Dengan demikian, Utsman termasuk golongan paling awal yang memeluk agama Islam dari kalangan laki-laki.
Keislaman beliau terjadi setelah kepulangannya dari perjalanan ke negeri Syam. Saat diperkenalkan kepada Islam, dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, serta dijelaskan kemuliaan dan ajaran agama ini, beliau menerimanya dengan hati yang terbuka.
Disebutkan pula bahwa ketika dalam perjalanan pulang dari Syam, Utsman pernah mendengar sebuah seruan yang mengabarkan bahwa Ahmad telah datang di Makkah. Ketika tiba di Makkah, beliau kemudian mendengar berita tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dakwah Islam.
Menjadi Menantu Rasulullah
Salah satu kemuliaan besar yang Allah berikan kepada Utsman radhiyallahu ‘anhu adalah kesempatan untuk menikahi Ruqayyah, putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pernikahan tersebut menjadi salah satu bentuk kedekatan dan kemuliaan beliau di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bahkan, pernah disebutkan dalam sebuah syair bahwa pasangan terbaik yang pernah disaksikan manusia adalah Ruqayyah dan suaminya, Utsman radhiyallahu ‘anhuma.
Kedekatan Utsman dengan Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan pusat pendidikan dan kehidupan generasi sahabat. Mereka tidak sekadar membaca atau menghafalnya, tetapi juga berusaha memahami kandungan serta mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang memiliki kecintaan sangat besar terhadap Al-Qur’an. Diriwayatkan bahwa para sahabat ketika mempelajari Al-Qur’an tidak melampaui sepuluh ayat sebelum memahami makna dan mengamalkan kandungannya. Mereka mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal secara bersamaan.
Kecintaan Utsman terhadap Kitabullah terlihat dari berbagai nasihatnya. Beliau pernah mengatakan bahwa seandainya hati benar-benar bersih, seseorang tidak akan pernah merasa bosan membaca Al-Qur’an.
Beliau juga berkata bahwa dirinya tidak menyukai jika satu hari berlalu tanpa sempat memandang Kitabullah. Hal ini menunjukkan betapa erat hubungan beliau dengan Al-Qur’an.
Dalam perkataan lainnya, beliau menyebutkan tiga perkara yang sangat dicintainya di dunia, yaitu memberi makan orang yang kelaparan, memberi pakaian kepada orang yang membutuhkan, dan membaca Al-Qur’an.
Beliau juga memberikan nasihat tentang beberapa perkara yang dapat menjadi sia-sia apabila tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Di antaranya adalah ilmu yang tidak disebarkan dan diamalkan, pendapat yang benar tetapi tidak diikuti, masjid yang tidak dimakmurkan, mushaf yang tidak dibaca, harta yang tidak disedekahkan, serta umur panjang yang tidak digunakan untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Wafatnya Utsman bin Affan
Para ahli sejarah pada umumnya sepakat bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu wafat pada tahun 35 Hijriah. Ada sebagian riwayat yang menyebutkan tahun 36 Hijriah, namun pendapat tersebut dinilai lemah oleh para ulama.
Beliau wafat sebagai seorang syahid setelah terbunuh pada hari Jumat menurut pendapat mayoritas ulama. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu meninggalkan warisan besar bagi umat Islam, terutama melalui keteladanan beliau dalam keimanan, kesabaran, kedermawanan, kecintaan kepada Al-Qur’an, dan pengabdiannya terhadap agama Allah.
Semoga Allah meridai Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dan seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.