Khutbah Jumat : Membangun Keluarga dan Melahirkan Generasi Shalih

Khutbah Jumat : Membangun Keluarga dan Melahirkan Generasi Shalih

Khutbah Pertama


إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَ وَلَا رَسُولَ بَعْدَهُ. 

قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الكَرِيمِ : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا 

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ٧٠ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا 

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa memelihara dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ. Takwa adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia dan merupakan jalan menuju keselamatan serta kebahagiaan di akhirat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di antara nikmat besar yang sering didambakan oleh manusia adalah hadirnya keturunan. Sebuah rumah tangga mungkin telah memiliki kehidupan yang mapan, tempat tinggal yang nyaman, kendaraan yang bagus, dan kecukupan harta. Namun bagi sebagian pasangan, semua itu terasa belum lengkap apabila belum dikaruniai seorang anak.

Tidak sedikit orang yang berusaha dengan berbagai cara dan mengorbankan banyak hal demi mendapatkan keturunan. Hal tersebut menunjukkan betapa besar kecintaan manusia kepada anak.

Namun, jamaah yang dirahmati Allah, anak bukanlah jaminan bahwa seseorang akan selalu mendapatkan kebahagiaan. Anak juga dapat menjadi ujian yang berat apabila tidak dibimbing dengan iman dan pendidikan yang benar.

Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka.”
(QS. At-Taghabun: 14)

Ayat ini bukanlah ajaran untuk membenci keluarga. Akan tetapi, Allah mengingatkan bahwa keluarga yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan juga dapat berubah menjadi sumber fitnah apabila tidak dibangun di atas keimanan.

Hadirin rahimakumullah,

Al-Qur’an menghadirkan kepada kita dua gambaran keluarga yang sangat berbeda. Keduanya memberikan pelajaran besar tentang bagaimana seorang anak menghadapi orang tuanya dan bagaimana iman membentuk kepribadian seorang anak.

Kisah pertama adalah kisah Nabi Ismail ‘alaihis salam.

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelih putranya, beliau menyampaikan hal tersebut kepada Ismail:

قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Apa jawaban Ismail?

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Perhatikanlah jawaban seorang anak yang masih muda ketika berhadapan dengan perintah yang begitu berat. Ia tidak mengedepankan ketakutan ataupun kepentingan dirinya. Ia justru menunjukkan ketundukan kepada perintah Allah dan kesabaran yang luar biasa.

Bandingkan dengan keadaan sebagian anak pada zaman kita. Untuk sekadar meninggalkan telepon genggam, berhenti bermain, atau memenuhi panggilan orang tua saja terkadang masih terasa berat.

Lalu, apa yang menjadikan Ismail tumbuh menjadi anak yang demikian taat?

Di antara jawabannya adalah karena ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dipenuhi iman dan ketakwaan. Ia dibesarkan oleh seorang ibu yang mulia, yaitu Hajar, seorang wanita yang memiliki keteguhan iman dan tawakal yang luar biasa kepada Allah.

Karena itulah, ketika kita menginginkan keturunan yang menjadi penyejuk hati, kita tidak cukup hanya berdoa meminta anak. Kita juga harus mempersiapkan diri menjadi orang tua yang baik.

Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami…’”
(QS. Al-Furqan: 74)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sekarang mari kita melihat kisah yang berbeda, yaitu kisah putra Nabi Nuh ‘alaihis salam.

Ketika banjir besar datang, Nabi Nuh memanggil putranya dengan penuh kasih sayang:

يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ

“Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.”
(QS. Hud: 42)

Namun sang anak menolak. Ia merasa dirinya dapat menyelamatkan diri dengan berlindung di atas gunung:

سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِۗ

“Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air.”

Nabi Nuh kemudian menjawab:

لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَۚ

“Tidak ada yang dapat melindungi hari ini dari ketetapan Allah selain orang yang dirahmati-Nya.”

Akhirnya, anak tersebut termasuk orang yang tenggelam.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Perhatikanlah. Ayahnya adalah seorang Nabi. Namun kedudukan ayahnya tidak otomatis membuat anaknya mendapatkan hidayah.

Allah ﷻ juga memberikan contoh lain tentang keluarga Nabi Nuh:

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, yaitu istri Nuh…”
(QS. At-Tahrim: 10)

Dari sini kita memahami betapa besar pengaruh lingkungan keluarga dalam membentuk seorang anak. Orang tua memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam menanamkan iman, akhlak, dan kecintaan kepada Allah sejak dini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari kisah Ismail dan putra Nabi Nuh, kita mendapatkan pelajaran bahwa anak yang saleh tidak lahir begitu saja. Ia membutuhkan keteladanan, pendidikan, lingkungan yang baik, serta orang tua yang memiliki iman dan ketakwaan.

Karena itu, pendidikan anak sesungguhnya dimulai jauh sebelum anak itu lahir. Salah satu langkah awalnya adalah memilih pasangan hidup yang baik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau akan beruntung.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka jangan sampai harta, kedudukan, maupun kecantikan membuat kita melupakan perkara yang paling penting, yaitu agama.

Semoga Allah memberikan kepada kita keluarga yang dipenuhi keimanan dan ketakwaan serta keturunan yang menjadi penyejuk hati.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

 

Khutbah Kedua


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ