Syarah Hadits Arbain #1: Fikih Niat dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Seorang Muslim (Bagian 2)

Syarah Hadits Arbain #1: Fikih Niat dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Seorang Muslim (Bagian 2)

Pada bagian pertama telah dibahas kedudukan hadits tentang niat dalam syariat serta latar belakang kisah Muhajir Ummu Qais. Dari pembahasan tersebut terlihat bahwa niat memiliki pengaruh besar terhadap nilai sebuah amal.

Satu amal yang secara lahiriah terlihat sama belum tentu memiliki nilai yang sama di sisi Allah SWT. Perbedaan tujuan dan niat dapat menyebabkan perbedaan nilai amal seseorang.

Karena itu, memahami fikih niat menjadi perkara penting agar seorang Muslim tidak hanya memperhatikan bentuk amal, tetapi juga memperhatikan apa yang ada di balik amal tersebut.

Fikih Hadits dan Pelajaran Penting

1. Wajibnya Niat dalam Setiap Ibadah

Para ulama menjelaskan bahwa amalan seorang mukalaf berkaitan erat dengan niat. Niat menjadi pembeda antara rutinitas kebiasaan (‘adah) dengan ibadah.

Dengan niat yang benar, aktivitas yang pada asalnya merupakan kebiasaan dapat menjadi amal yang bernilai ibadah. Makan, tidur, bekerja, belajar, atau aktivitas lainnya dapat bernilai pahala apabila dilakukan dengan tujuan yang baik dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri memperhatikan niat dalam berbagai aktivitas yang dilakukan.

2. Tempat dan Waktu Melakukan Niat

Tempat niat adalah di dalam hati. Hakikat niat adalah kesengajaan hati untuk melakukan suatu ibadah.

Mengucapkan niat dengan lisan, menurut sebagian ulama, bukanlah hakikat dari niat itu sendiri, tetapi dapat menjadi sarana untuk membantu memfokuskan hati.

Adapun waktunya berkaitan dengan awal pelaksanaan ibadah. Dalam shalat, misalnya, niat berkaitan dengan pelaksanaan shalat ketika memulai ibadah. Sedangkan puasa memiliki pembahasan tersendiri karena adanya ketentuan tentang waktu berniat sebelum fajar.

Dengan demikian, inti dari niat bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan, tetapi kesengajaan hati untuk melakukan suatu amal karena tujuan tertentu.

Niat dan Amal Ibarat Roh dan Jasad

Para ulama mengumpamakan niat dan amalan seperti roh dan jasad.

Jasad tidak akan hidup tanpa roh, dan roh tidak tampak dalam kehidupan dunia tanpa jasad. Demikian pula amal tanpa niat yang benar akan kehilangan arah dan nilai yang seharusnya.

Perumpamaan ini menunjukkan bahwa antara niat dan amal terdapat hubungan yang sangat erat. Amal merupakan bentuk yang tampak, sedangkan niat menjadi ruh yang memberikan arah dan nilai terhadap amal tersebut.

Oleh karena itu, memperbaiki amal tidak cukup hanya dengan memperbaiki bentuk lahiriahnya. Hati sebagai tempat niat juga harus senantiasa diperhatikan dan diperbaiki.

3. Ganjaran Pahala Berdasarkan Niat

Seseorang yang telah berniat dengan tulus untuk melakukan suatu amal sholeh, kemudian terhalang oleh uzur syar’i seperti sakit atau sebab lain yang menghalanginya, maka niat baik tersebut tetap memiliki nilai di sisi Allah SWT.

Hal ini menunjukkan luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya. Niat yang baik memiliki kedudukan yang sangat penting dan menjadi salah satu sebab seseorang memperoleh pahala.

Karena itu, jangan meremehkan niat baik. Bisa jadi seseorang belum mampu melakukan sebuah amal karena keterbatasan atau uzur, tetapi keinginan dan niat yang tulus untuk melakukan kebaikan tetap memiliki nilai di sisi Allah.

Pentingnya Menata Niat dalam Kehidupan

Hadits ini tidak hanya berbicara tentang niat dalam ibadah tertentu, tetapi juga memberikan pelajaran yang luas dalam kehidupan seorang Muslim.

Menuntut ilmu, berdakwah, bekerja, bermuamalah, maupun berbagai aktivitas sehari-hari hendaknya senantiasa diarahkan untuk meraih ridha Allah SWT (ibtigha’a mardhatillah).

Seorang santri yang menuntut ilmu, misalnya, hendaknya tidak hanya memiliki tujuan untuk memperoleh nilai, mendapatkan gelar, atau mencapai kedudukan tertentu.

Lebih dari itu, ilmu yang dipelajari hendaknya diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah, memperbaiki diri, mengamalkan ilmu, serta memberikan manfaat kepada umat.

Begitu pula dalam berdakwah. Dakwah bukanlah sarana untuk mendapatkan pujian manusia, popularitas, atau kedudukan. Dakwah harus dibangun di atas keikhlasan dan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.

Demikian pula dalam bekerja dan bermuamalah. Seorang Muslim dapat menjadikan aktivitas tersebut sebagai ibadah ketika diniatkan dengan benar dan dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.

Dengan demikian, kehidupan seorang Muslim pada hakikatnya dapat dipenuhi dengan amal sholeh. Bukan karena setiap aktivitas harus berubah menjadi ritual ibadah, tetapi karena setiap aktivitas yang mubah dapat diarahkan dengan niat yang baik untuk mencari ridha Allah.

Senantiasa Memperbarui Niat

Niat merupakan perkara hati yang membutuhkan penjagaan.

Seseorang bisa saja memulai sebuah amal dengan niat yang ikhlas, tetapi dalam perjalanan amal tersebut muncul berbagai keinginan lain yang dapat mengganggu keikhlasannya.

Karena itu, memperbarui niat merupakan sesuatu yang perlu dilakukan secara terus-menerus.

Sebelum melakukan suatu amal, hendaknya seorang Muslim bertanya kepada dirinya sendiri: untuk siapa amal ini dilakukan? Apa tujuan yang ingin dicapai? Apakah amal tersebut benar-benar ditujukan untuk mencari ridha Allah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar kita tidak hanya sibuk memperbanyak amal, tetapi juga memperhatikan kualitas dan keikhlasan amal tersebut.

Terlebih bagi seorang santri, aktivitas belajar, menghafal Al-Qur’an, mengikuti kajian, melaksanakan tugas, membantu orang lain, hingga menjalankan berbagai kegiatan di pondok dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah apabila dibangun dengan niat yang benar.

Kesimpulan

Hadits pertama dalam Al-Arbain An-Nawawiyah memberikan pelajaran yang sangat mendasar bahwa setiap amal bergantung kepada niatnya. Niat menjadi ruh dari amal dan menjadi salah satu perkara yang menentukan nilai sebuah perbuatan di sisi Allah SWT.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya senantiasa memperbarui dan menata niat dalam setiap aktivitas. Baik dalam menuntut ilmu, berdakwah, bekerja, maupun bermuamalah sehari-hari, hendaknya semuanya diarahkan untuk meraih ridha Allah SWT (ibtigha’a mardhatillah).

Jangan sampai kesibukan memperbanyak amal membuat kita lupa memperbaiki niat. Sebab amal yang besar di mata manusia belum tentu besar di sisi Allah, dan amal yang terlihat sederhana dapat menjadi besar karena keikhlasan yang ada di baliknya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kepada kita keikhlasan dalam beramal, meluruskan niat kita, serta menerima setiap amal kebaikan yang kita lakukan.

Wallahu a’lam bish-shawab.