“Jika Muhammad mengatakannya, maka itu pasti benar.”
Hanya dengan satu kalimat itu, sejarah mengabadikan seorang lelaki dengan gelar yang tak pernah dimiliki orang lain: Ash-Shiddiq, orang yang paling jujur dalam membenarkan kebenaran.
Namanya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir Al-Qurasyi At-Taimi, namun dunia lebih mengenalnya sebagai Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia bukan nabi, bukan malaikat, dan bukan manusia tanpa kesalahan. Namun setelah para nabi, hampir tidak ada manusia yang memiliki kedudukan setinggi dirinya di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Apa yang membuat Abu Bakar begitu istimewa?
Bukan karena kekayaannya semata, bukan pula karena kedudukannya di tengah masyarakat Quraisy. Yang menjadikannya mulia adalah hati yang penuh keimanan, keberanian yang lahir dari keyakinan, serta kecintaan yang tak pernah surut kepada Rasulullah ﷺ.
Lelaki Pertama yang Percaya
Ketika Rasulullah ﷺ pertama kali menerima wahyu dan mengajak manusia kepada Islam, kebanyakan orang justru menolak. Mereka mengejek, mencaci, bahkan menganggap beliau gila.
Namun Abu Bakar berbeda.
Begitu mendengar dakwah Rasulullah ﷺ, ia tidak meminta mukjizat, tidak meminta bukti tambahan, dan tidak meminta waktu untuk berpikir.
Ia langsung beriman.
Keimanan itu bukan sekadar ucapan. Sejak hari pertama, Abu Bakar mengorbankan seluruh hidupnya demi Islam. Melalui dakwahnya, tokoh-tokoh besar seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah masuk Islam. Seakan-akan Allah menjadikan Abu Bakar sebagai pintu hidayah bagi banyak manusia.
Malam yang Menguji Keimanan
Suatu pagi, kaum Quraisy datang dengan wajah penuh ejekan.
“Muhammad mengaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam satu malam, lalu naik ke langit.”
Mereka mengira Abu Bakar akan mulai ragu.
Namun jawaban Abu Bakar justru membuat mereka terdiam.
“Jika Muhammad benar-benar mengatakannya, maka itu pasti benar.”
Begitulah keyakinannya.
Bahkan beliau menambahkan, bahwa ia telah membenarkan berita yang jauh lebih besar daripada Isra’ Mi’raj, yaitu turunnya wahyu dari langit kepada Rasulullah ﷺ setiap hari.
Sejak peristiwa itu Rasulullah ﷺ memberikan gelar yang abadi kepadanya: Ash-Shiddiq.
Bukan karena Abu Bakar mengetahui semua jawaban, tetapi karena ia yakin bahwa Rasulullah ﷺ tidak mungkin berdusta.
Sahabat dalam Perjalanan Paling Berbahaya
Ketika kaum Quraisy merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah ﷺ, Allah memerintahkan beliau berhijrah ke Madinah.
Di saat semua orang ingin menjaga keselamatan dirinya sendiri, Abu Bakar justru memikirkan keselamatan Rasulullah.
Ia menjadi satu-satunya sahabat yang menemani perjalanan hijrah.
Ketika sampai di Gua Tsur, Abu Bakar tidak membiarkan Rasulullah masuk terlebih dahulu. Ia masuk lebih dulu, memeriksa setiap sudut gua, menutup lubang-lubang yang mungkin dihuni ular atau kalajengking, memastikan tempat itu benar-benar aman.
Dalam perjalanan pun ia terus berpindah posisi.
Kadang berjalan di depan Rasulullah ﷺ.
Kadang di belakang.
Kadang di kanan.
Kadang di kiri.
Saat Rasulullah bertanya mengapa ia melakukan itu, Abu Bakar menjawab,
“Jika aku teringat musuh yang mengejar kita, aku berjalan di belakangmu. Jika aku teringat kemungkinan penyergapan dari depan, aku berjalan di depanmu.”
Ia rela menjadi tameng hidup bagi Rasulullah.
Ketika orang-orang Quraisy telah berdiri tepat di depan mulut gua, Abu Bakar berkata dengan cemas,
“Ya Rasulullah, jika salah seorang dari mereka menundukkan pandangannya ke bawah, pasti mereka akan melihat kita.”
Namun Rasulullah ﷺ menjawab dengan penuh ketenangan,
“Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.”
Ayat ini kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu kemuliaan terbesar Abu Bakar.
Hartanya Habis, Iman Tidak Pernah Habis
Abu Bakar dikenal sebagai saudagar kaya.
Namun kekayaannya tidak pernah menguasai hatinya.
Ia menggunakan hartanya untuk membebaskan budak-budak muslim yang disiksa karena mempertahankan tauhid. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabah.
Ketika Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat bersedekah, Umar bin Khattab datang membawa setengah hartanya. Dalam hati Umar berkata, “Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar.”
Tak lama kemudian Abu Bakar datang.
Ia membawa seluruh hartanya.
Rasulullah ﷺ bertanya,
“Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”
Abu Bakar menjawab dengan kalimat yang terus dikenang hingga hari ini,
“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Mendengar jawaban itu, Umar berkata,
“Demi Allah, aku tidak akan pernah mampu mengalahkan Abu Bakar.”
Bagi Abu Bakar, harta hanyalah alat. Sedangkan tujuan hidupnya adalah ridha Allah.
Saat Semua Orang Guncang
Hari paling berat bagi kaum muslimin akhirnya tiba.
Rasulullah ﷺ wafat.
Banyak sahabat kehilangan akal sehat karena sedih.
Umar bin Khattab bahkan menghunus pedangnya dan berkata,
“Barang siapa mengatakan Muhammad telah meninggal, akan kupenggal lehernya.”
Abu Bakar datang.
Ia masuk ke rumah Rasulullah ﷺ, membuka wajah beliau, mencium keningnya, lalu berkata dengan suara lirih,
“Engkau tetap indah ketika hidup maupun setelah wafat.”
Kemudian beliau keluar menemui kaum muslimin dan menyampaikan pidato yang mengubah sejarah.
“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Tetapi barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”
Lalu beliau membaca firman Allah,
“Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang?”
Saat itulah para sahabat tersadar.
Umar sendiri berkata seolah baru pertama kali mendengar ayat tersebut.
Dengan keteguhan Abu Bakar, Allah menenangkan umat Islam yang sedang kehilangan pemimpinnya.
Khalifah yang Lembut Namun Tegas
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar diangkat menjadi khalifah pertama.
Banyak orang mengira beliau akan memerintah dengan kelembutan semata.
Ternyata tidak.
Ketika sebagian kabilah Arab menolak membayar zakat, sebagian sahabat menganggap mereka tidak perlu diperangi.
Namun Abu Bakar berkata dengan tegas,
“Demi Allah, aku akan memerangi siapa pun yang membedakan antara shalat dan zakat.”
Bahkan Umar bin Khattab yang terkenal tegas sempat heran dengan keputusan itu.
Namun setelah melihat keyakinan Abu Bakar, Umar berkata,
“Aku yakin bahwa inilah kebenaran.”
Keputusan Abu Bakar menyelamatkan persatuan umat Islam.
Seandainya saat itu beliau ragu, mungkin sejarah Islam akan berbeda.
Pemimpin yang Hidup Sangat Sederhana
Meski menjadi kepala negara, Abu Bakar tetap hidup sederhana.
Pada hari-hari pertama menjadi khalifah, beliau bahkan masih berangkat ke pasar untuk berdagang demi mencari nafkah.
Para sahabat kemudian memintanya menerima gaji secukupnya dari Baitul Mal karena tugas memimpin umat sangat berat.
Namun menjelang wafatnya, Abu Bakar meminta seluruh fasilitas negara yang pernah ia gunakan dikembalikan.
Seekor unta perah.
Sebuah mangkuk.
Sehelai kain.
Ketika semua barang itu sampai kepada Umar bin Khattab, Umar menangis sambil berkata,
“Wahai Abu Bakar, engkau telah membuat berat orang-orang yang datang setelahmu.”
Beginilah pemimpin yang takut mempertanggungjawabkan setiap amanah di hadapan Allah.
Lelaki yang Dicintai Langit
Suatu hari Rasulullah ﷺ ditanya,
“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”
Beliau menjawab,
“‘Aisyah.”
“Lalu siapa dari kalangan laki-laki?”
Beliau menjawab,
“Ayahnya.”
Ayah Aisyah adalah Abu Bakar.
Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa seandainya beliau boleh memiliki seorang khalil (sahabat yang sangat dekat) selain Allah, maka Abu Bakar-lah orangnya.
Beliau juga memberi kabar gembira bahwa Abu Bakar akan dipanggil dari seluruh pintu surga.
Betapa besar kedudukan seorang sahabat yang seluruh hidupnya diabdikan untuk Allah dan Rasul-Nya.
Pelajaran dari Abu Bakar
Abu Bakar Ash-Shiddiq bukan manusia yang paling kuat secara fisik, bukan pula yang paling banyak berbicara. Namun ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: hati yang penuh keyakinan.
Ketika orang lain ragu, ia percaya.
Ketika orang lain takut, ia maju.
Ketika orang lain sibuk mengumpulkan dunia, ia mengumpulkan amal.
Ketika orang lain mempertahankan hartanya, ia justru menghabiskannya di jalan Allah.
Karena itulah namanya terus dikenang hingga hari ini.
Kisah Abu Bakar mengajarkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh jabatan, kekayaan, ataupun popularitas. Kemuliaan lahir dari iman yang kokoh, kejujuran yang tidak tergoyahkan, pengorbanan tanpa pamrih, dan kecintaan yang tulus kepada Allah serta Rasul-Nya.
Semoga Allah meridhai Abu Bakar Ash-Shiddiq, mengumpulkan kita bersama beliau di surga-Nya, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu meneladani keimanan, keberanian, serta keikhlasannya.