Oleh : Abdul Rohman, S.Th.I
Al-Qur’an mengakui betapa eksistensi wanita di alam ini adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah. Bila kita amati ayat-ayat al-Qur’an dari awal sampai akhir akan kita temukan tak kurang dari 85 kali Alloh menyebut lafal “wanita”, seperti niswat, nisa’, imra’at dan sebagainya di mana yang terbanyak adalah lafal nisa’, yakni 59 kali. Bahkan, di dalam al-Qur’an terdapat lima surat yang namanya mengisyaratkan tentang wanita, seperti an-Nisa’, at-Thalaq, al-Mujadilah, al-Mumtahanah. Terdapat pula nama surat yang menyebut nama wanita secara khusus seperti Maryam. Semua itu menjadi bukti bahwa keberadaan wanita di alam ini betul-betul diakui oleh al-Qur’an.
Di samping pengakuan terhadap eksistensi wanita, al-Qur’an juga mengatur kehidupan mereka agar tidak salah langkah dalam menjalani hidup dan kehidupan. Tidak kita pungkiri betapa wanita mempunyai peran yang sangat penting dan besar dalam membangun suatu masyarakat. Memang benar kata seorang penyair :
“Seorang ibu adalah madrasah bagi para putranya. Mempersiapkannya adalah mempersiapkan bangsa yang mulia. Seorang ibu adalah taman. Jika kau rawat dia, niscaya tumbuh subur menghijau. Seorang ibu adalah guru dari guru yang pertama. Gerak–geriknya mempengaruhi seluruh ufuk.”
Akan tetapi manakala seorang wanita menyimpang dari tanggungjawab utamanya yang telah digariskan Islam untuk mereka, kemudian tampil dengan berbagai bentuk kemaksiatan dan meninggalkan nilai-nilai kebaikan pada dirinya, maka ketika itu posisinya berbalik menjadi sebilah pedang yang menyerang umat, merusak mereka dan menghancurkannya dengan kehancuran yang sebenar-benarnya.
Rosululloh n telah mengingatkan kepada umatnya untuk senantiasa berhati-hati terhadap wanita manakala mereka menyimpang sebagaimana beliau juga memperingatkan mereka terhadap dunia :
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Artinya:
“Sesungguhnya dunia itu manis dan menggiurkan. Sungguh Alloh telah menyerahkannya kepada kalian kemudian Alloh hendak melihat apa yang akan kalian perbuat terhadapnya. Maka berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita. Karena sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah karena wanita.” (HR. Muslim)
Usamah bin Zaid berkata bahwa Rosululloh n pernah bersabda :
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ
Artinya:
“Aku tidak meninggalkan sesudahku fitnah yang lebih bahaya bagi seorang laki-laki dari fitnah wanita.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Musuh-musuh Islam sangat memahami betapa peran penting wanita muslimah dalam membangun umat Islam sejak mereka membai’at Nabi hingga hari ini. Oleh karena itu merusak akidah para wanita muslimah dengan menyebarkan propaganda slogan-slogan batil adalah cara yang paling jitu untuk menghancurkan Islam menurut mereka.
Salah satunya adalah emansipasi wanita. Emansipasi yang seharusnya bermakna membebaskan wanita dari perbudakan malah menjerumuskannya pada perbudakan baru. Dalam masyarakat kapitalis wanita hanya menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Pada masyarakat yang bebas, wanita dididik untuk melepaskan segala ikatan normatif kecuali kepentingan industri. Tubuh mereka dipertunjukkan untuk menarik selera konsumen. Mobil mewah tidak lengkap bila perempuan setengah telanjang tidak tidur di atasnya. Kopi pun kurang sedap bila tidak disajikan oleh wanita belia yang seronok.
Tidak kalah menariknya kegiatan yang diusung oleh kelompok kapitalis dalam memuaskan nafsu-nafsu mereka. Sekali lagi wanita sebagai komoditi utama untuk meraup keuntungan dan kenikmatan mereka seperti kontes-kontes kecantikan apapun namanya; Miss World, Miss Universe, Miss Indonesia, dan lain sebagainya. Semua itu bukanlah jalan kemuliaan bagi seorang wanita tapi justru sebaliknya, hanya menjadikan wanita sebagai objek eksploitasi sensualitas dan perendahan martabat wanita. Maka sangat naif jika wanita muslimah berpartisipasi atau mendukung kontes-kontes tersebut.
Syariat Islam sangat menghargai dan memuliakan kaum wanita dengan menetapkan hukum-hukum syariat yang khusus bagi mereka serta menjelaskan hak dan kewajiban mereka dalam Islam. Semua itu bertujuan untuk menjaga dan melindungi kehormatan dan kemuliaan kaum wanita.
Syaikh Shalih al-Fauzan t berkata: “Wanita Muslimah memiliki kedudukan yang agung dalam Islam, sehingga banyak tugas mulia yang disandarkan kepadanya. Oleh karena itu, Nabi n selalu menyampaikan nasihat-nasihat yang khusus bagi kaum wanita, seperti khutbah yang beliau sampaikan di Arafah (ketika haji wada’). Ini semua menunjukkan wajibnya memberikan perhatian kepada kaum wanita di setiap waktu….”
Demikian juga Islam tidak mengesampingkan peran wanita dalam membangun nilai-nilai peradaban dunia. Hal ini terbukti dengan adanya pemberian kedudukan kepada perempuan yang tidak akan ditemui dalam ajaran agama dan ideologi manapun.
Adapun ketinggian dari kedudukan itu tersajikan sebagai berikut :
- Sebagai ibu bagi anak-anaknya
“Dan kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua yaitu ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tua ibu-bapak, hanya kepada-Kulah tempat kembalimu”. (QS. Luqman : 14)
Seharusnya seorang wanita bersedia dan bangga menjadi ibu. Bukan sebaliknya, menyesal menjadi ibu dan bahkan menolak kodratnya sebagai seorang ibu sebagaimana yang dianut kaum feminis dewasa ini. Mereka menganggap perkawinan dan melahirkan anak sebagai suatu beban yang akan menghambat karir yang merupakan lambang dari kekalahan wanita terhadap lelaki. Anak dianggap sebagai beban ekonomi dan mengurus anak sama dengan menyita waktu untuk bersaing dengan kaum lelaki.
- Sebagai istri dari suaminya
“Hai orang beriman, tidak halal bagimu mewarisi wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa : 19)
- Melindungi kehormatan dan kesucian dirinya
“ Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali, dan jangalah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 4).
- Sebagai ahli waris dari harta peninggalan ibu-bapaknya
“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapaknya dan bagi wanita ada hak bagian pula dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya…”. (QS. An-Nisa : 7)
- Sebagai hamba Robbnya
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut asma Alloh, Alloh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab : 35)
Setiap mahluk hidup yang ada di dunia ini menyandang predikat sebagai hamba Alloh l. Sebagai hamba tentunya kita memiliki kewajiban yang sama untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan kepada kita selama berada di dunia ini. Tidak ada perbedaan seorang hamba di mata yang Maha Pencipta. Hanya amalan dan ketakwaan yang menjadi referensi untuk mengukur segala apa yang dilakukan di kehidupan dunia ini. Wallohu a’lam bisshowab.
Referensi :
- Al-Qur’an.
- Nisaa’u Haula al-Rosul, Mahmud Mahdi Al-Istambuli dan Musthofa Abu Nashr Asy Syalabi.
- Wanita didalam Al-Qur’an, Amina Wadud Muhsin.
- Tafsir bi Al-Ra’yi, Nashruddin Baidan
- Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat.
- blogspot.com
- blogspot.com