Mengambil Sesembahan Selain Allah (Bagian 2)

Mengambil Sesembahan Selain Allah (Bagian 2)

Mengenal Berbagai Bentuk Sesembahan Selain Allah yang Wajib Dijauhi

Pada bagian pertama telah dijelaskan bahwa seluruh sesembahan selain Allah tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk memberikan manfaat maupun menolak mudarat. Namun, bentuk kesyirikan tidak selalu berupa penyembahan patung atau berhala sebagaimana yang terjadi pada masa jahiliah. Di setiap zaman, syaitan menghiasi berbagai bentuk kesyirikan agar tampak indah di mata manusia.

Karena itu, setiap muslim wajib mengetahui bentuk-bentuk sesembahan selain Allah agar dapat menjaga kemurnian tauhidnya. Berikut beberapa bentuk sesembahan yang dijelaskan oleh para ulama berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

1. Al-Ilaahatu Min Duunillah

(Segala Sesembahan Selain Allah)

Yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dijadikan tempat meminta pertolongan, perlindungan, manfaat, atau penolak bahaya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bentuknya sangat beragam, di antaranya:

  • Pohon yang dianggap keramat.
  • Batu, arca, atau patung yang disembah.
  • Jin dan setan.
  • Orang yang telah meninggal dunia.
  • Kuburan yang dikeramatkan.
  • Wali atau tokoh agama yang diminta pertolongan dalam perkara gaib.
  • Jimat, keris pusaka, cincin akik, dan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan gaib.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ ۝ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

Artinya:

“Sesungguhnya dahulu apabila dikatakan kepada mereka, ‘Laa ilaaha illallah’, mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena mengikuti seorang penyair yang gila?'”
(QS. Ash-Shaffat: 35–36)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik memiliki banyak sesembahan selain Allah. Ketika diajak memurnikan ibadah hanya kepada Allah, mereka menolak karena hati mereka telah bergantung kepada sesembahan tersebut.

2. Ath-Thaghut

Thaghut adalah segala sesuatu yang disembah, ditaati, atau diikuti secara melampaui batas kedudukannya sebagai hamba Allah.

Para ulama menjelaskan bahwa tokoh-tokoh utama thaghut ada lima, yaitu:

  • Iblis la’natullah ‘alaih.
  • Orang yang rela dirinya disembah.
  • Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.
  • Orang yang mengaku mengetahui perkara gaib, seperti dukun, paranormal, tukang ramal, dan sejenisnya.
  • Orang yang menetapkan hukum selain hukum Allah lalu mengajak manusia mengikutinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya:

“Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 256)

Ayat ini menunjukkan bahwa tauhid tidak cukup hanya beriman kepada Allah, tetapi juga harus mengingkari seluruh bentuk thaghut.

3. Al-Andad

(Tandingan-Tandingan Selain Allah)

Al-Andad adalah segala sesuatu yang dicintai hingga kecintaan tersebut mengalahkan atau menyamai kecintaan kepada Allah.

Bentuknya bisa berupa:

  • Harta.
  • Jabatan.
  • Anak dan keluarga.
  • Pasangan hidup.
  • Popularitas.
  • Kekuasaan.
  • Dunia beserta segala perhiasannya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Artinya:

“Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan. Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

Artinya:

“Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia akan masuk neraka.”
(HR. Bukhari)

Seorang muslim tentu mencintai keluarga, harta, dan pekerjaannya. Namun kecintaan tersebut tidak boleh membuatnya meninggalkan kewajiban kepada Allah atau mendahulukan hawa nafsu di atas syariat-Nya.

4. Al-Arbab

(Tuhan-Tuhan Selain Allah)

Yang dimaksud Al-Arbab adalah orang-orang yang dijadikan sebagai penentu halal dan haram selain Allah, kemudian ketetapan tersebut diikuti tanpa dasar syariat.

Allah berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ…

Artinya:

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, demikian pula Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa.”
(QS. At-Taubah: 31)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang Nasrani menjadikan pendeta dan rahib sebagai “tuhan” karena mereka mengikuti setiap ketetapan yang dibuat para pemuka agama tersebut, meskipun bertentangan dengan wahyu Allah.

Pelajaran penting bagi kaum muslimin adalah bahwa ketaatan kepada ulama, guru, atau pemimpin hanya berlaku selama mereka memerintahkan sesuatu yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak ada seorang pun yang berhak menetapkan halal dan haram berdasarkan hawa nafsunya.

Menjaga Kemurnian Tauhid

Empat bentuk sesembahan selain Allah di atas menjadi peringatan bagi setiap muslim agar selalu menjaga aqidahnya. Kesyirikan tidak selalu hadir dalam bentuk penyembahan berhala, tetapi dapat muncul dalam bentuk ketergantungan hati, pengagungan yang berlebihan kepada makhluk, atau mendahulukan selain Allah dalam perkara ibadah dan ketaatan.

Karena itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa memperbarui tauhidnya, memperdalam ilmu agama, dan menjadikan Al-Qur’an serta As-Sunnah sebagai pedoman hidup.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

Artinya:

“Barang siapa mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah, maka terpeliharalah harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya diserahkan kepada Allah.”
(HR. Muslim, Ahmad, dan Ath-Thabrani)

Penutup

Tauhid merupakan fondasi utama dalam Islam. Seluruh bentuk ibadah, doa, rasa takut, harapan, tawakal, dan pengagungan hanya boleh ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala bentuk kesyirikan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, wajib dijauhi karena dapat merusak amal dan menghapus nilai tauhid seorang hamba.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga hati kita agar senantiasa istiqamah di atas tauhid, menjauhkan kita dari segala bentuk kesyirikan, serta mewafatkan kita dalam keadaan membawa kalimat Lā ilāha illallāh.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Maraji’

  1. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir.
  2. Al-Qur’an dan Terjemah Kementerian Agama RI.
  3. Al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab At-Tauhid, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.
  4. Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan.
  5. Al-Qaulul Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.